Seniman Jalanan Nan Mulia
Jangan sampai kerasnya hidup di jalanan membunuh nurani, rasa cinta dan iba hati kita kawan! Karena apa bedanya kita dengan mereka: rezim dan budak asing yang menyengsarakan rakyat miskin, apabila kita yang besar di jalanan tidak bisa hidup santun dan tetap berpegang pada prinsip- prinsip kita?
Pertama- tama: Seniman Jalanan harus sadar akan Hak dan Kewajibannya. Seniman Jalanan sebagai bagian dari Kaum Miskin berhak untuk mengamen dan mengais rezeki di jalanan untuk menafkahi hidupnya tanpa harus dikejar- kejar Satpol- PP dan yang lainnya. Hal ini dilakukan sebagai manifestasi dari protes sosial atau perlawanan kepada pemerintah yang tidak bisa memberikan pendidikan gratis, pelayanan sosial yang manusiawi tanpa birokrasi yang membebani dan pekerjaan yang layak. Lebih dari itu semua, Seniman Jalanan berkewajiban untuk menciptakan rasa nyaman dalam lingkungan masyarakat secara umum, mengamen dengan benar sebagai bentuk penghargaan atas nilai seni yang dipanggungkan di jalanan dan penghormatan akan nilai- nilai kehidupan kepada masyarakat umum yang dijadikan obyek mengamen. Ini merupakan kewajiban mendasar seorang Seniman Jalanan yang revolusioner.
Kedua: Seniman Jalanan sebagai bagian dari Kaum Miskin Perkotaan, perlahan- lahan tapi pasti mesti memiliki kesadaran kalau sedang dijajah atau dirampas Haknya. Negara jelas- jelas bertanggung jawab untuk melindungi Fakir Miskin dan anak- anak terlantar. Hal ini secara gamblang dijelaskan dalam Undang- undang Dasar (UUD) 1945 Pasal 34. Apa artinya melindungi? Apakah melindungi itu diartikan dengan menangkapi lalu menjebloskan ke dalam Sel yang katanya tempat pembinaan itu? Apakah pendidikan didapatkan di tempat itu? Apakah pembinaan semacam pembelajaran dasar seperti membaca, menulis, berhitung dan yang yang sekarang seperti pengoperasian komputer, elektronika, menjahit dan yang paling penting pembinaan mental berupa Konseling untuk mewujudkan psikis yang baik didapatkan di sana? Sudahkan pemerintah melakukannya? Yang berkuasa tetap kenyang, sementara kita tetap lapar teman! Pastikan kita tetap melawan!!
Ketiga: Seniman Jalanan sebagai bagian dari umat manusia universal adalah pribadi- pribadi yang bermacam- macam jenis dan sifatnya. Jalanan adalah gurunya dan hasil raportnya pun beraneka ragam. Watak kejam dan beringas, rendah hati dan dermawan bahkan yang radikal penuh perlawanan bisa kita temukan. Pilihannya hanya dua: menjadi baik dan jahat. Motivasi terbesar seseorang menjalani profesi sebagai Seniman Jalanan adalah kebebasan. Yang kedua adalah menuruti kata hati yang hubungannya dengan bakat. Dan yang ketiga adalah tidak ada pilihan lagi. Sedikit yang memilih alasan yang pertama dan kedua. Alasan pertama dan kedua, sebenarnya adalah alasan yang masuk akal, dapat dibungkus dengan komitmen dan bisa dipertanggung jawabkan. Maksudnya di sini adalah alasan tersebut merupakan satu kesatuan di saat seseorang memilih menjadi pribadi yang tidak ikut- ikutan dan mempunyai prinsip yang baik. Ini erat kaitannya dengan Semangat Revolusioner yang merupakan soal Kemanusiaan, Keadilan, Cinta kasih dan Kesetiaan. Karena ada Semangat Revolusioner maka Seniman Jalanan mau memilih alasan yang pertama dan kedua. Kebebasan adalah sesuatu yang didambakan. Seharusnya alasan utama adalah memang ingin hidup bebas dan bertanggung jawab kepada hidup. Seniman Jalanan seharusnya tidak menyia- nyiakan waktu. Sebagai Seniman Jalanan, seharusnya waktu dapat digunakan dalam kegiatan berkesenian. Bisa diselingi dengan menulis, membuat proyek musik dan tentunya hal lain. Seniman Jalanan semestinya berpikir: saya tidak bisa terus- terusan di jalan dan saya tidak boleh hanya mengamen di bus- bus kota saja. Saya harus pintar oleh karena itu saya mau belajar dari teman- teman yang aktif di Organisasi- organisasi, saya mau belajar di mana saja. Pun sebaliknya teman- teman dari Organisasi Pergerakan mestinya menjemput bola dan dengan sabar dan ikhlas mengajarkan Seniman Jalanan tentang arah perjuangan dan arti kehidupan.
Keempat: Seniman Jalanan tidak seterusnya ditakdirkan untuk hidup miskin dan menderita. Seniman Jalanan sebagai bagian manusia yang bebas, berhak melakukan apapun tanpa merugikan kepentingan orang lain. Seniman Jalanan harus berusaha untuk memerdekakan jiwa dan badan agar kelak hidup damai dan sejahtera. Dan Seniman Jalanan mesti mengetahui arah perjuangan agar tidak mudah disetir, disusupi dan dibodohi. Jangan sekedar ikut- ikutan. Mesti tahu siapa kawan (Progresif Revolusioner) dan siapa lawan (Kontra Revolusioner) karena kita adalah Seniman Jalanan Nan Mulia!
Memang tak semudah membalikkan telapak tangan kawan- kawan! Tapi pastikan hati nurani dan jiwa besar kita tetap terjaga untuk masa depan nan cemerlang!
Hidup Semangat Revolusioner!
Hidup Seniman Jalanan Revolusioner!
Jakarta, 7 November 2012
Noel Setiadi
- Revisi Pertama 18 Desember 2012
- Revisi Kedua 30 Desember 2013

No comments